Feb
20
2008

Inilah Cover Buku paling anyar dari Komunitas Blogger terbesar di Indonesia, Blogfam hasil kerjasama dengan Penerbit Gradien Mediatama Yogyakarta. Sebelumnya, pada bulan lalu, komunitas ini juga telah meluncurkan Buku Kumpulan Cerita Anak yang diterbitkan oleh Penerbit Ganeca tetapi diedarkan langsung ke seluruh perpustakaan di Indonesia. Buku kumpulan cerita komedi cinta ini menjadi buku ke-enam dari Komunitas yang sudah berusia 4 tahun ini dan akan beredar di seluruh Toko Buku di Indonesia pada akhir Januari 2008 (termasuk pula di gerai-gerai Indomaret dan Alfamaret).
Buku ini berisi 15 Cerpen Komedi Cinta dari 15 penulis (yang juga blogger dan anggota blogfam) terpilih hasil seleksi dari tim penyunting Blogfam yang terdiri dari saya, Iwok Abqary dan Ang Tek Khun (mewakili penerbit Gradien) yang dilaksanakan sejak January 2007 hingga Maret 2007. Dari 34 karya yang masuk sampai akhir batas waktu pengumpulan (sempat membuat kami, tim penyusun jadi terkaget-kaget karena besarnya animo peserta yang ikut dalam ajang ini), hampir semuanya bagus-bagus dan lucu. Secara keseluruhan karya yang masuk ke dalam “meja penilaian kami†punya potensi besar. Dan ini membuat kami mesti bekerja ekstra keras dan berdiskusi lebih panjang secara online (saya di Jakarta, Iwok di Tasikmalaya dan Mas Khun di Yogya) untuk menilai apalagi kami bertiga memiliki preferensi definisi “lucu” yang berbeda-beda dikepala kami. Syukurlah, kami akhirnya bisa memilih 15 cerita komedi untuk akhirnya diterbitkan dalam buku yang bertajuk “Makan Tuh Cinta!” ini.
Oya, buku ini adalah buku kedua blogfam dimana saya terlibat menjadi editor/penyuntingnya setelah buku Flash!Flash!Flash! Kumpulan Cerita Sekilas yang terbit awal Januari 2007 lalu.
Selamat buat para penulisnya dan Blogfam serta jangan lupa beli bukunya ya?
Berbagi
Feb
14
2008
TAK pernah sekalipun terlintas dalam benak saya sebelumnya dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan sejarah penuh dinamika Penerbitan Kampus tertua di Indonesia Timur “Identitas†Universitas Hasanuddin. Ketika masuk menjadi mahasiswa baru Fakultas Teknik UNHAS tahun 1989, saya berkenalan pertama kali dan langsung “melahap†seluruh isi Penerbitan Kampus yang berdiri tanggal 16 Desember 1974 ini dari sebuah lembaran bekas alas duduk seseorang yang tak saya kenal di koridor Fakultas Teknik.
Surat Kabar Kampus yang memang dibagikan gratis ke seluruh Civitas Academica UNHAS ini tergeletak dalam kondisi kumal. Itu karena nasibnya begitu malang : setelah dibaca, justru menjadi alas duduk.Setelah membaca seluruh isinya, dalam hati, saya seketika mengidap “kegeraman†pada orang yang sudah begitu tega menduduki sekaligus menyia-nyiakan begitu saja Koran kampus yang berisi tulisan-tulisan bagus dan berbobot itu. Perlahan, saya melipat Koran itu lebih rapi dan memasukkannya ke tas ransel saya. “Walaupun Koran ini dibagikan secara gratis, tetap mesti dihargai secara proporsional dong, masa’ cuma jadi alas duduk?†gerutu saya kesal. Tapi dalam hati saja
Continue Reading »
Berbagi
Feb
14
2008

Saya sedang mengetik tulisan di ruang redaksi “Identitas” UNHAS tahun 1992
DALAM sebuah perbincangan santai saya bersama Budi Putra (Proffesional Blogger pertama di Indonesia dan CEO Asia Blogging Network), Syaifullah Daeng Gassing dan salah satu penggagas situs jurnalisme orang biasa Panyingkul, Kak Moch.Hasymi Ibrahim di food court Makassar Trade Center Karebosi, hari Sabtu sore 24 November 2007, kami tiba-tiba terkenang kembali pada jasa mesin ketik.
Benda itu begitu berharga terutama ketika, saya, Budi Putra dan Kak Hasymi memulai “karir” sebagai penulis beberapa tahun silam. “Suara mesin ketik yang kethak-kethok itu, justru membangkitkan imajinasi dan inspirasi untuk menulis. Seandainya saja suara ketikan di keyboard komputer sekarang bisa seperti itu,” ujar Budi Putra sambil tertawa berderai.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008
SAYA menggunakan kesempatan pulang ke Makassar tanggal 24-25 November 2007 lalu untuk mencari dan mengoleksi foto-foto lama saya. Untuk menghindari kerusakan dan agar tetap lestari sepanjang masa, saya membawa beberapa foto untuk di-scan dan disimpan dalam format digital.
Diantara foto-foto, hampir semuanya membangkitkan kenangan masa kecil yang indah. Seperti foto saya dibawah ini.

Foto diatas diambil didepan rumah kami di Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu (kurang lebih 500 km dari Makassar) sekitar tahun 1979. Kami sekeluarga bermukim disana mulai tahun 1978-1981, mengikuti ayah yang dipindahkan bekerja ke IPS (Irrigation Project Scheme) Departemen Pertanian. Pada latar belakang foto itulah kantor ayah saya dan “gubuk” kecil didepannya adalah tempat generator listrik yang dinyalakan setiap malam tiba.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008

Saya tertegun dan sekaligus takjub membaca sebuah iklan “layanan” sunat seperti terpasang diatas yang dipajang dengan warna dasar kuning menyolok, tak jauh dari rumah saya, Minggu pagi (9/12) lalu. Saya tak tahu seperti apa layanan sunat yang diberikan, apakah memakai sinar laser atau menggunakan nanoteknologi yang super canggih, tapi yang jelas iklan itu sangat provokatif dan menggetarkan sukma.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008
DULU, saya merasa, ayah adalah pegawai yang paling berbahagia didunia ini. Betapa tidak?. Karena rumah kami hanya berjarak 50 meter dari kantor, maka ayah berangkat tidak lebih pagi, masih sempat pulang makan siang dan tiba kembali dirumah lebih cepat. Hebat!. Saya bermimpi akan menjadi pegawai berbahagia seperti beliau. Tapi sayang, sudah hampir 5 tahun terakhir, saya melakoni profesi sebagai Pekerja Komuter. Tinggal di Cikarang yang berjarak 45 km dari kantor saya di daerah Lebak Bulus. Tiap hari kerja saya mesti berangkat jam 05.30 pagi dan sampai dirumah menjelang pukul 20.00 malam. Ironis.

Mejeng dengan narsis di kantor lama, Gedung Aldevco Octagon Building Lt.2 Jl.Buncit Raya (gambar diambil tahun 2004)
Tapi saya memang mesti siap menghadapi resiko itu. Membeli rumah di Jakarta yang tak jauh dari kantor, untuk kelas pekerja kere berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini hanyalah menjadi angan-angan belaka. Dan rumah di BSD alias Bekasi Sono Dikit, menjadi pilihan karena harganya relatif terjangkau dan kalaupun mesti kredit ke Bank (seperti yang kini saya lakukan) tidak terlalu mencekik anggaran rumah tangga serta biaya hidup sehari-hari.
Continue Reading »
Berbagi