Mar
28
2008
MATAHARI sudah turun ke peraduannya saat saya tiba di gerbang Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin, 24 Maret 2008 untuk menghadiri Diskusi dengan tema Perkembangan Sastra Kontemporer di Makassar: Menelisik Kumpulan Puisi Aku Hendak Pindah Rumah dan Kumpulan Cerita Pendek Makkunrai dan 10 Kisah Perempuan Lainnya yang merupakan rangkaian kegiatan inisiatif Sastra dari Makassar. Sejumlah pedagang kaki lima dan penjual makanan tampak terlihat memenuhi bahu jalan dan pelataran halaman depan TIM. Saya melirik jam tangan. Pukul 18.45. Masih ada waktu untuk bercengkrama dang ngobrol bersama rekan-rekan penggagas dan penggiat sastra dari makassar sebelum acara dibuka pukul 19.00 nanti, saya membatin. Beruntunglah, saya sudah sempat “mengisi perut” sejenak dengan Nasi Goreng Merah khas Makassar kesukaan saya di Restorant PELANGI, Jalan Wahid Hasyim. Usai sholat maghrib, dengan pertimbangan menghindari macet disaat jam pulang kantor, saya menumpang ojek yang mangkal didepan hotel IBIS Tamarin, berangkat menuju TIM.
Suasana masih sepi di Galeri Cipta II, tempat pelaksanaan acara tersebut. Di tangga masuk saya menjabat tangan Kak Moch.Hasymi Ibrahim yang kebetulan juga baru datang. Saya lalu menemui Lily Yulianti Farid, rekan seperjuangan saya di Penerbitan Kampus “Identitas” UNHAS dulu yang karya kumpulan cerpennya “Makkunrai” di-”bedah” dalam diskusi kali ini. Dengan balutan busana hitam dan jilbab ungu, Lily tampak cantik dan anggun malam itu. Kami lalu bercakap-cakap sejenak. Tak lama kemudian, sejumlah aktivis milis Apresiasi Sastra datang antara lain, Mbak Illonk, Mbak Ita Siregar dan Setyo Bardono. Lily terlibat percakapan seru bersama mereka. Saya lalu membeli buku kumpulan cerpen “Makkunrai” karya Lily Yulianti dan Kumpulan Puisi “Aku Hendak Pindah Rumah” karya M.Aan Mansyur yang digelar di depan pintu masuk. Saya sempat “menodong” Lily dan Aan–penulis kedua buku yang saya beli–untuk membubuhkan tanda tangan dihalaman depan. “Untuk ATG rekan seperjuangan, Happy Writing, Happy Reading, Happy Life”, tulis Lily di buku “Makkunrai” saya, sementara Aan menulis “Buat Kawan ATG, selamat mengapresiasi” di buku “Aku Hendak Pindah Rumah”.
Continue Reading »
Share This
Mar
21
2008

Minggu lalu saya membuat blog foto-foto lucu dan unik yang merupakan hasil kompilasi dari kiriman email iseng terusan kawan-kawan yang masuk ke inbox saya. Sumber foto-foto tersebut sebagian besar saya tak tahu darimana asalnya. Saya membaginya kembali buat rekan-rekan semua, sekedar melepaskan ketegangan dan membuang stress.
Silahkan “intip” saja di http://fotolucu.dagdigdug.com
Share This
Mar
20
2008
Kenanganlah yang akan menuntun kita berjalan kedepan meski ia selalu tertegun melihat kita menjauh meninggalkannya dan tak sekalipun marah jika kita datang lagi mengusiknya. Kenangan, sahabat sejati. Kenangan, kekasih sejati
– Novel Perempuan, Rumah Kenangan (halaman 10) karya M.Aan Mansyur, Insist Press, Yogyakarta, 2007
Suatu hari seorang kawan “memprotes” sejumlah posting saya diblog ini yang mengangkat kisah-kisah dari masa lalu. “Kamu terlalu mellow,” demikian katanya. “Sudah saatnya,”ucap dia lagi,”kamu mencoba membahas hal-hal aktual yang terjadi dimasa kini. Dan tidak sekedar terjebak dan terpukau pada kemilau masa silam lalu menuangkannya dalam tulisan di blog. Biarlah kenangan itu jadi bagian masa lalu. Hidup ini mesti harus terus berjalan. Catat dan ungkapkan saja pendapatmu pada hal-hal yang terjadi disekitarmu. Sekarang. Bukan yang kemarin”.
Saya tercenung. Lama. Mungkin dia benar. Saya terlalu mellow dan terkesan begitu terjebak pada kemilau kenangan masa silam yang diungkapkan secara mencolok dan terkesan narsis di blog ini. Tapi tak apa. Dia berhak punya pendapat seperti itu. Namun setiap orang memiliki hak untuk “mengelola” dan mengabadikan kenangannya masing-masing. Sesuai gaya dan karakternya. Termasuk saya. Dan ia, dengan otoritas sekuat apapun, tak memiliki kekuasaan memaksa saya meninggalkan lintasan kenangan hidup saya yang menari-nari indah dibenak saya untuk kemudian mengisahkannya kembali di blog.
Continue Reading »
Share This
Mar
19
2008
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…
(Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran)
Tanpa sadar air mata saya tumpah disebuah sore yang muram dan kuyup dibasuh hujan yang turun sangat deras.
Peristiwa mengesankan itu terjadi hari Senin minggu lalu. Selama ini, sejujurnya, saya hampir tak pernah merasa semelankolis itu. Tapi pemandangan pilu yang berada di hadapan saya seketika membuat batin saya tersentak dan terasa begitu ngilu mengiris nurani.
Hari itu (10/3), seperti biasa, jika bis yang membawa saya pulang dari kantor ke Bekasi Timur (dari sana saya melanjutkan lagi ke rumah di Cikarang) tidak tersedia, saya akan naik bis alternatif yang menuju ke Terminal Kampung Rambutan lalu kemudian melanjutkan dengan bis lain ke Bekasi Timur. Saya naik bis 610 (ukurannya sebesar Metromini/Kopaja) jurusan Lebak Bulus-Kampung Rambutan, dari sebuah halte di seberang kantor saya.
Sejak pukul empat sore hujan mengguyur deras kawasan Lebak Bulus dan sekitarnya. Untunglah, sejak berangkat dari rumah saya sudah menyiapkan jaket, payung dan topi sebagai antisipasi bila hujan deras terjadi. Kurang lebih 15 menit menunggu di halte tak lama kemudian muncullah bis 610 yang sudah dengan kondisi nyaris miring kekiri saking penuhnya. Setelah melipat payung, saya segera melompat ke dalam bis dan ikut “bergelantungan” serta berdesakan bersama penumpang-penumpang lain yang tidak mendapatkan tempat duduk. Bis langsung melaju kencang memasuki Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta.
Continue Reading »
Share This
Mar
11
2008
Judul Buku : Makassar Di Panyingkul (Pilihan Kabar Orang Biasa 2006-2007)
Pengantar : Nirwan Ahmad Arsuka
Penerbit : Panyingkul, Cetakan Pertama, Juli 2007
Penyunting : Lily Yulianti Farid dan Farid Ma’ruf Ibrahim
Halaman : 366 Halaman
Bila anda hanya orang biasa, bukan wartawan atau pekerja media yang kerap berkutat-secara professional– dengan berita serta tetek bengek penayangannya, janganlah sungkan memberi kabar di Panyingkul dot com. Sebuah “sudut tak biasa†di dunia maya yang memberi bentangan ruang begitu luas bagi pewarta warga(Citizen Reporter) untuk berekspresi, berimpresi dengan segenap gairah serta beragam sentuhan emosi untuk mengabarkan banyak hal yang mungkin saja tak tersentuh bahkan malah “diabaikan†oleh Media Mainstream. Kabar yang menjadi sebuah representasi aktual atas praktek demokrasi partisipatif yang melibatkan warga biasa dengan tidak hanya bercerita dan melaporkan namun juga berbagi kesan, sekaligus berdialog secara interaktif dengan para pembaca, memanfaatkan teknologi internet. Lepas dari elitisme dan keangkuhan media mainstream yang kerap kali “terdikte†oleh “otoritas†sang pemilik media , “kecenderungan†orientasi pasar pembaca atau “sponsor†pesanan untuk pihak-pihak tertentu.
Continue Reading »
Share This
Mar
06
2008

Media citizen journalism Panyingkul! (www.panyingkul.com), kafe baca Biblioholic, penerbit Nala Cipta Litera dan Forum Tenda Kata meluncurkan inisiatif Sastra dari Makassar, upaya yang dikerjakan secara independen dengan mengandalkan partisipasi lembaga dan individu yang memiliki kepedulian menggairahkan kegiatan sastra kontemporer di Makassar, khususnya di kalangan kaum muda.
Sastra dari Makassar merancang program berkelanjutan sepanjang tahun melalui kelas apresiasi sastra, workshop penulisan, penerbitan karya sastra, dan pemberian beasiswa penulisan karya sastra bagi penulis muda.
Sebagai langkah awal, Sastra dari Makassar akan menggelar diskusi dan peluncuran dua buku penulis Makassar, yakni Kumpulan Puisi “Aku Hendak Pindah Rumah” karya M. Aan Mansyur dan Kumpulan Cerita Pendek “Makkunrai” karya Lily Yulianti Farid, yang diterbitkan oleh Nala Cipta Litera Makassar. Pembacaan puisi dan cerita pendek yang dirangkai dengan diskusi dan workshop akan digelar di sejumlah stasiun radio, kantong-kantong komunitas sastra, rumah baca, kampus dan sekolah menengah atas pada bulan Maret dan April 2008.
Continue Reading »
Share This