Archive for Februari, 2008

Feb 13 2008

THERE’S SOMETHING PINKY IN MY HEART

Published by amriltg under Kisah

maingitar-bersama-rahman1986-resize.jpg

Saya dan Rahman bernyanyi duet dalam acara perpisahan SMPN 2 Maros, Juli 1986

“ADA bagian merah jambu yang romantis dalam hatimu, pik” ,ujar kawan saya di SMP Negeri 2 Maros, Abdul Rahman pelan seraya menunjuk dada saya. Wajahnya terlihat tetap serius saat saya menyambut ungkapannya itu dengan tawa berderai.

Apa yang dia ucapkan sesaat setelah kami turun pentas bermain gitar dan menyanyi bersama dalam acara perpisahan kami di SMP Negeri 2 Maros tahun ajaran 1985-1986, bagi saya sungguh menggelikan.

There’s something pinky in my heart ? Really? Ah, so sweet.

“Sikap romantis dan bakat senimu luar biasa, kawan. Perlu terus kamu kembangkan terus,” kata Rahman seraya menepuk pundak saya. Saya mendelik kebingungan.

Continue Reading »

No responses yet

Feb 13 2008

“REVOLUSI” BARU DALAM DUNIA PERSUNATAN

Published by amriltg under Uncategorized

photo_0008.jpg

Saya tertegun dan sekaligus takjub membaca sebuah iklan “layanan” sunat seperti terpasang diatas yang dipajang dengan warna dasar kuning menyolok, tak jauh dari rumah saya, Minggu pagi (9/12) lalu. Saya tak tahu seperti apa layanan sunat yang diberikan, apakah memakai sinar laser atau menggunakan nanoteknologi yang super canggih, tapi yang jelas iklan itu sangat provokatif dan menggetarkan sukma.

Continue Reading »

2 responses so far

Feb 13 2008

ROMANTIKA “TELER” SANG PEKERJA KOMUTER

Published by amriltg under Uncategorized

DULU, saya merasa, ayah adalah pegawai yang paling berbahagia didunia ini. Betapa tidak?. Karena rumah kami hanya berjarak 50 meter dari kantor, maka ayah berangkat tidak lebih pagi, masih sempat pulang makan siang dan tiba kembali dirumah lebih cepat. Hebat!. Saya bermimpi akan menjadi pegawai berbahagia seperti beliau. Tapi sayang, sudah hampir 5 tahun terakhir, saya melakoni profesi sebagai Pekerja Komuter. Tinggal di Cikarang yang berjarak 45 km dari kantor saya di daerah Lebak Bulus. Tiap hari kerja saya mesti berangkat jam 05.30 pagi dan sampai dirumah menjelang pukul 20.00 malam. Ironis.

amril-mejeng-booo.JPG

Mejeng dengan narsis di kantor lama, Gedung Aldevco Octagon Building Lt.2 Jl.Buncit Raya (gambar diambil tahun 2004)

Tapi saya memang mesti siap menghadapi resiko itu. Membeli rumah di Jakarta yang tak jauh dari kantor, untuk kelas pekerja kere berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini hanyalah menjadi angan-angan belaka. Dan rumah di BSD alias Bekasi Sono Dikit, menjadi pilihan karena harganya relatif terjangkau dan kalaupun mesti kredit ke Bank (seperti yang kini saya lakukan) tidak terlalu mencekik anggaran rumah tangga serta biaya hidup sehari-hari.

Continue Reading »

No responses yet

Feb 12 2008

LELAKI YANG SELALU MENCATAT KENANGAN

Published by amriltg under Kisah

“Jangan lupa kirimkan Papa buku diary kosong yang baru untuk tahun depan ya, Nak”

Kalimat itu kerap diucapkan oleh ayahanda tercinta saya, Karim Van Gobel, setiap akhir tahun menjelang. Hanya sebuah Buku Diary Baru Kosong. Dan saya, dengan semangat membuncah, akan segera berangkat ke Toko Buku mencari pesanan rutin akhir tahun ayah saya itu. Bagi saya, menganugerahkan sebuah buku diary baru kepada ayah saya—tiap akhir tahun—merupakan sebuah kehormatan tersendiri yang begitu besar dan berharga.  Sebuah rutinitas yang senantiasa saya lakoni dengan riang, sejak merantau ke Jakarta tahun 1995. Ayah saya adalah lelaki yang begitu tekun mencatat kenangan, dalam serpih terkecil sekalipun, di setiap rekam jejak perjalanan hidupnya dalam buku diary. Konon, beliau sudah memulai menulis diary sejak saya lahir (hal yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis blog anak pertama saya, Rizky, sejak ia lahir tahun 2002). Continue Reading »

4 responses so far

Feb 12 2008

STRATEGI JITU MELAMPIASKAN NGIDAM

Published by amriltg under Kisah

Sejak Istri saya dinyatakan hamil oleh dokter–setelah penantian kami yang cukup panjang selama 3 tahun–maka sebagai suami yang berbahagia (karena perkasa) telah berhasil “membuahi” istri tercinta, saya begitu bersemangat memanjakan perempuan yang tengah mengandung anak pertama kami itu. Bentuk-bentuk upaya memanjakan itu antara lain, mengubah panggilan dari “Saya-Kamu” menjadi “Papah-Mamah” (dengan tambahan huruf “h” dibelakang yang dilafalkan dengan desahan yang romantis, sedikit erotis).

Tidak hanya itu. Saat saya atau istri memanggil maka kami akan saling memperlihatkan gestur tubuh penuh kemesraan satu sama lain. Jadi misalnya jika istri saya memanggil dengan bibir basah merekah, “Papah, sayangkuh, cintakuh”, maka spontan saya menjawab dengan mata dikedap-kedipkan dengan genit seperti Tessy digoda Asmuni dalam lakon komedi Srimulat,”Adah apah Mamah?”.

Norak bukan?.

Continue Reading »

4 responses so far

Feb 12 2008

DESPERATE SEEKING CHILD

Published by amriltg under Kisah

Di pucuk alam, saya menyaksikan kedua anak saya, Alya dan Rizky, tertidur pulas. Putra tertua saya. Rizky, meringkuk bersama guling disampingnya. Dengkur halus terdengar dari bibirnya yang mungil. Tak jauh dari situ, adiknya, Alya terlihat sedang mendekap erat leher ibunya. Salah satu kaki anak bungsu saya tersebut berada diatas paha bundanya yang juga sedang “berlayar ke alam mimpi” sembari memeluk kedua buah hatinya itu.

Saya tersenyum.

Betapa cepat waktu berputar. Ingatan saya mendadak terlontar pada suatu petang yang muram akhir tahun 2001. Istri saya duduk dengan wajah murung di atas kursi rotan panjang pada ruang tamu rumah kontrakan kami di Taman Aster Cibitung.

Merenung lama. Kesedihan terlihat menggayut diwajahnya.

Saya sudah tahu apa maksudnya.

Continue Reading »

No responses yet

Feb 11 2008

SARUNGAN? SIAPA TAKUT?

Published by amriltg under Kisah

Sekitar tahun 1996 (11 tahun silam, tanggal tepatnya saya lupa), ketika itu saya masih kost di daerah Klender-Jakarta Timur dan bekerja sebagai salah seorang karyawan di PT.KADERA-AR INDONESIA Pulogadung.Bersama 4 orang kawan (semua lelaki dan berstatus Jojoba atau Jomblo-jomblo bahagia), kami berinisiatif melakukan hal”sableng” yaitu: Nonton Bioskop di Studio 21 di Plaza Klender (sebelum terbakar karena peristiwa Mei 1998) dengan sarung paling bau.

Peraturannya gampang. Masing-masing dari kami harus menyiapkan satu sarung paling bulukan yang mereka miliki (paling tidak belum pernah dicuci selama satu bulan terakhir) dan mengenakannya didalam bioskop dengan posisi sarung menutup kepala. Maka demikianlah, pada Hari-H, kami semua datang ke bioskop dengan dandanan perlente dan rapi (tapi masing2 dari kami menenteng tas plastik berisi sarung). Setelah membeli karcis (filmnya waktu itu adalah Die Hard-3 dibintangi oleh Bruce Willis), kami masuk melalui pintu bioskop. Petugas bioskop sama sekali tidak menaruh curiga.

Continue Reading »

2 responses so far

Feb 11 2008

TOLOOONG..ANAK SAYA TAKUT NAIK PESAWAT TERBANG!!

Published by amriltg under Kisah

SAYA tidak tahu, apakah anak saya telah mengalami sebuah indoktrinasi sistematis dari Mr.T tokoh bertubuh kekar yang–ironisnya– takut naik pesawat, sampai-sampai sang rekan Murdock mesti membiusnya dulu sebelum dibawa terbang (tokoh ini diperankan oleh B.A.Baracus dalam serial televisi terkenal The A-Team).

Awalnya ketika kami sekeluarga berencana pulang ke kampung halaman istri saya di Yogya. Untuk alasan efisiensi waktu, saya sudah menetapkan agar kami sekeluarga mudik kesana dengan menggunakan pesawat terbang. Saya bahkan sudah mengontak travel agent langganan kantor saya untuk memesan tiket. Namun saat rencana itu saya ungkapkan, anak tertua saya, Rizky, ia tiba-tiba berseru kencang : “Aku tidak mau naik pesaawaaat! Takut Jatuh! Pokoknya tidak mauuu!!”.

Saya terperangah.

Dan saya makin tersentak kaget, ketika si bungsu putri kecil saya, Alya ikut-ikutan nyeletuk dengan suara cadelnya, “Aku juga gak mauu naik pecawat ! Takut Jatuh!”.

Saya menepuk jidat. Istri saya menelan ludah. Kami tercekam dalam kesunyian.

Peristiwa kecelakaan beruntun yang menimpa beberapa penerbangan di Indonesia, rupanya menjadi pangkal semua itu. Ada tragedi jatuhnya pesawat ADAM AIR di Perairan Majene dan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda Indonesia saat mendarat di Bandara Adisucupto yang menjadi referensi seram bagi kedua anak saya untuk anti naik pesawat terbang.

Tayangan televisi yang memberitakan peristiwa tersebut dan kerap memberikan pemandangan dramatis menambah ketakutan kedua anak saya.Menurut istri saya, ketika menonton tayangan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto dan ada adegan seseorang memapah korban berlumur darah dari pesawat naas itu, kedua anak saya spontan menutup mata dengan kedua tangannya. Saya sempat menegur istri saya agar tidak mengarahkan kedua anak saya menonton tayangan “horor” di televisi. Tapi apa daya, hampir semua stasiun TV menayangkan kejadian itu dan meskipun televisi kami matikan, media non televisi lainnya seperti suratkabar (dimana saya berlangganan 2 suratkabar harian) ikut memberitakan peristiwa tragis tersebut.

Continue Reading »

One response so far

« Prev