Feb 21 2008
MENGIRIS MALAM BERSAMA OJEK BANDARA
Malam baru saja mendekati pucuknya saat pesawat saya mendarat mulus di Bandara Hasanuddin Jum’at, 24 Juni 2006. Udara malam Makassar yang sejuk segera menyergap hidung saya ketika menuruni tangga pesawat yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Pukul 20.30 WIB. Kekesalan saya lantaran pesawat yang saya tumpangi itu terlambat berangkat satu jam dari jadwal yang sudah ditetapkan, mendadak menguap. Kerinduan menginjakkan kaki kembali ditanah kelahiran dan tempat melewatkan sebagian besar masa muda saya terlampiaskan begitu menyaksikan lampu-lampu di terminal penumpang seluas 10.185 m2 berkelap-kelip semarak dan masih memperlihatkan kesibukan meski sudah menjelang tengah malam.Kedatangan saya ke Makassar kali ini adalah dalam rangka menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan adik bungsu saya, Diah Ramayanti Gobel dan Herlambang Susatya yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Karena jatah cuti saya dikantor terbatas dan juga Alya, anak bungsu saya sedang sakit, maka saya tidak mengikut sertakan anak dan istri pada kunjungan saya ke Makassar kali ini. Di lobby bandara Hasanuddin yang berjarak kurang lebih 20 km dari rumah orang tua saya di Bumi Antang Permai, saya mengabarkan kedatangan. Di ujung telepon, ayah saya sempat mengungkapkan kekhawatiran jika terjadi hal yang tak diinginkan selama perjalanan saya dari bandara ke rumah di tengah malam. Saya menepis kekhawatiran beliau dengan menyatakan bahwa, meski sudah 11 tahun meninggalkan Makassar, saya tidak akan kesasar pulang dan mudah-mudahan bisa menghindari “hal-hal yang tidak diinginkanâ€.




