Feb
13
2008
“Buatlah Blog dan Rasakan Keajaibannyaâ€
Kalimat diatas adalah tulisan kawan saya, Tomi Lebang dalam suatu kesempatan chatting bersamanya lewat fasilitas YahooMessenger sekitar 4 tahun silam. Ketika itu, Tomi—demikian saya sering memanggil mantan wartawan Majalah TEMPO tersebut dan ketika itu sedang menempuh pendidikan di London—memberikan sejumlah panduan membuat blog sederhana kepada saya yang masih lugu soal per-“blogâ€-an melalui obrolan intens kami via chatting. Pada Tomi saya mengungkapkan ketidakpercayaan bahwa blog yang kelak akan saya buat tidak mempunyai efek apa-apa, paling sekedar menyalurkan nafsu “ke-narsis-an†belaka. Tomi hanya menjawab singkat, “Trust me, Bro. Trust me!â€. Tulisan di monitor computer itu saya pandangi lama dan membangkitkan gairah saya untuk mencobanya.
Dan demikianlah. Awal tahun 2003, blog saya yang pertama lahir, beralamat di www.muhrizkyauliagobel.blogspot.com. Blog itu mengangkat potret dan catatan kehidupan dari anak pertama saya, Muhammad Rizky Aulia Gobel, sejak ia lahir 25 November 2002 yang saya tulis dalam “kacamata†Rizky. Setelah berjalan kurang lebih 3 bulan, saya tiba-tiba menemukan keasyikan tersendiri mengisi blog. Dengan fasilitas interaktif (dan tentu gratisan) yang dimiliki, saya seperti menemukan sarana ekspresi yang merepresentasikan tidak hanya keceriaan anak saya menjalani hari demi hari serta detik demi detik kehidupannya tetapi sekaligus menjadi sarana dokumentasi virtual yang efektif dan dapat dibuka darimana saja diseluruh penghujung dunia sepanjang terdapat jaringan internet. Tak ayal, ayah dan ibu saya di Makassar secara periodik bisa mengikuti polah lucu serta perkembangan sang cucu tercinta di Cikarang cukup dengan membuka blog Rizky.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008
SAYA menggunakan kesempatan pulang ke Makassar tanggal 24-25 November 2007 lalu untuk mencari dan mengoleksi foto-foto lama saya. Untuk menghindari kerusakan dan agar tetap lestari sepanjang masa, saya membawa beberapa foto untuk di-scan dan disimpan dalam format digital.
Diantara foto-foto, hampir semuanya membangkitkan kenangan masa kecil yang indah. Seperti foto saya dibawah ini.

Foto diatas diambil didepan rumah kami di Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu (kurang lebih 500 km dari Makassar) sekitar tahun 1979. Kami sekeluarga bermukim disana mulai tahun 1978-1981, mengikuti ayah yang dipindahkan bekerja ke IPS (Irrigation Project Scheme) Departemen Pertanian. Pada latar belakang foto itulah kantor ayah saya dan “gubuk” kecil didepannya adalah tempat generator listrik yang dinyalakan setiap malam tiba.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008

Saya dan Rahman bernyanyi duet dalam acara perpisahan SMPN 2 Maros, Juli 1986
“ADA bagian merah jambu yang romantis dalam hatimu, pik” ,ujar kawan saya di SMP Negeri 2 Maros, Abdul Rahman pelan seraya menunjuk dada saya. Wajahnya terlihat tetap serius saat saya menyambut ungkapannya itu dengan tawa berderai.
Apa yang dia ucapkan sesaat setelah kami turun pentas bermain gitar dan menyanyi bersama dalam acara perpisahan kami di SMP Negeri 2 Maros tahun ajaran 1985-1986, bagi saya sungguh menggelikan.
There’s something pinky in my heart ? Really? Ah, so sweet.
“Sikap romantis dan bakat senimu luar biasa, kawan. Perlu terus kamu kembangkan terus,” kata Rahman seraya menepuk pundak saya. Saya mendelik kebingungan.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008

Saya tertegun dan sekaligus takjub membaca sebuah iklan “layanan” sunat seperti terpasang diatas yang dipajang dengan warna dasar kuning menyolok, tak jauh dari rumah saya, Minggu pagi (9/12) lalu. Saya tak tahu seperti apa layanan sunat yang diberikan, apakah memakai sinar laser atau menggunakan nanoteknologi yang super canggih, tapi yang jelas iklan itu sangat provokatif dan menggetarkan sukma.
Continue Reading »
Berbagi
Feb
13
2008
DULU, saya merasa, ayah adalah pegawai yang paling berbahagia didunia ini. Betapa tidak?. Karena rumah kami hanya berjarak 50 meter dari kantor, maka ayah berangkat tidak lebih pagi, masih sempat pulang makan siang dan tiba kembali dirumah lebih cepat. Hebat!. Saya bermimpi akan menjadi pegawai berbahagia seperti beliau. Tapi sayang, sudah hampir 5 tahun terakhir, saya melakoni profesi sebagai Pekerja Komuter. Tinggal di Cikarang yang berjarak 45 km dari kantor saya di daerah Lebak Bulus. Tiap hari kerja saya mesti berangkat jam 05.30 pagi dan sampai dirumah menjelang pukul 20.00 malam. Ironis.

Mejeng dengan narsis di kantor lama, Gedung Aldevco Octagon Building Lt.2 Jl.Buncit Raya (gambar diambil tahun 2004)
Tapi saya memang mesti siap menghadapi resiko itu. Membeli rumah di Jakarta yang tak jauh dari kantor, untuk kelas pekerja kere berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini hanyalah menjadi angan-angan belaka. Dan rumah di BSD alias Bekasi Sono Dikit, menjadi pilihan karena harganya relatif terjangkau dan kalaupun mesti kredit ke Bank (seperti yang kini saya lakukan) tidak terlalu mencekik anggaran rumah tangga serta biaya hidup sehari-hari.
Continue Reading »
Berbagi